Home

PENERBITAN INDIE: CARA MERDEKA SEORANG PENULIS MELAHIRKAN KARYA-KARYANYA
cok-sawitri_640x457Tahun ini, Cok Sawitri memberi kejutan bagi teman-temannya dengan menerbitkan tiga buku sekaligus secara indie. Buku Puisi Setahun Kematian semilyar Nyanyianku Mati, Kiamatku dalam Jarak 3 Centimeter, Kumpulan Cerpen dengan judul Baruni Jembatan Surga dan Novel The Widow of Jirah yang merupakan terjemahan dari Novel Janda dari Jirah. Kejutan lain, dua covernya dibuat sendiri oleh Cok Sawitri dan hanya Cover Widow of Jirah diserahkan kepada Damuh Bening. Sedang penterjemahan diserahkan kepada Suliati Boentaran.
Sesungguhnya pilihan menerbitkan secara buku-bukunya secara indie cukup mengejutkan, karena bagi Cok Sawitri tidaklah sulit mencari penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Seperti tiga novel karya Cok sebelumnya, yaitu; “Janda dari Jirah” diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, “Sutasoma” oleh penerbit Kaki Langit Kencana, “Tantri, Perempuan yang Bercerita” oleh penerbit kompas. Ketiga novel tersebut menduduki jajaran lima besar dalam Khatulistiwa Award, dan bahkan Sutasoma menerima anugrah Dharmawangsa. Jadi, cukup mengejutkan ketika Cok Sawitri secara diam-diam menyiapkan tiga buku untuk dicetak secara indie. Yang dikhawatirkan oleh para sahabat dan teman-temannya adalah bagaimana memasarkan dan mendistribusikannya? Salah seorang sahabat berpesan; “jangan jadi sinterkelas, tidak semua penerima buku gratis itu akan membacanya, sering buku itu hanya dijadikan pajangan atau selipan dalam kekumuhan lemari.”
Kekhawatiran seniman tak akan sanggup memasuki wilayah pemasaran dan pendistribusian karya-karyanya justru ditanggapi oleh Cok Sawitri dengan penjelasan sederhana; menulis itu seperti bertanam padi. Awalnya memilih benih, lalu baru dilakukan pembibitan, setelah itu baru bercocok tanam dan ada proses pemeliharaan. Dan membaca memang bukan kebutuhan pokok, tetapi banyak yang berseru seolah membaca sudah dijadikan kebutuhan pokok. Tetapi banyak alasan begitu susah dijelaskan, mengapa tidak semua toko buku dapat memajang karya buku itu berlama-lama, apalagi jika toko buku itu bagian dari konglomerasi! Maka buku sastra ditempatkan dalam rak dagangan, yang lebih buruk dari nasib barang kadaluarwarsa. Karena itu, mengembalikan seni sastra sebagai bagian dari perjuangan sosial haruslah menemukan jalan ke luar dari situasi dimana intervensi keuntungan ekonomi lebih diutamakan dibandingkan dengan penghormatan pada keragaman ekspresi. Orientasi penulisan yang disebabkan trend adalah kenyataan saat ini untuk tidak dapat tidak menyatakan bahwa penerbitan buku sastra memasuki wilayah industri kreatif, sebuah label yang tak lain adalah sebatas barang jualan. Jika tak laku, maka buku itu akan digudangkan. Tidak ada ruang apresiasi pada konteksnya.
Kejutan lain, Buku Puisi Setahun Kematian semilyar Nyanyianku Mati, Kiamatku Dalam Jarak 3 centimeter, sebuah karya puisi dengan satu judul dengan panjang halaman 152 halaman. Menulis puisi panjang menurut Cok itu adalah kewajiban bagi dirinya untuk melengkapi proses kreatif penulisan. Dan Cok Sawitri tidak memilih bentuk tipografi seperti kakawin atau konvensi penulisan puisi pada umumnya. Pada Novel Janda dari Jirah, Cok Sawitri telah menunjukan kekuatan puitikanya dalam prosa liris yang mendekonstruksi cara pandang terhadap Calon Arang. Jadi, tidak ada masalah untuknya bila mau menulis dengan keketatan pakem estetika puitika. Kemudian dalam karya Sutasoma, Cok Sawitri memberi jawaban akan daya tahan, kedetailan dan kerumitan pengenai figur, dan memasuki jelajah moral dengan narasi yang memberi gambaran pengetahuan yang luas mengenai apa yang ditulisnya, sedangkan pada Novel Tantri, Perempuan yang bercerita, karyanya itu seolah unjuk kemampuan mengenai ketahanan menulis dalam tehnik penulisan bertingkat-tingkat, yang membutuhkan daya tahan luarbiasa untuk dapat menjaga emosi penulisan.
Buku Puisi Setahun Kematian Semilyar Nyanyianku Mati, Kiamatku Dalam jarak 3 centimeter, tidaklah meninggalkan diksi khas ala cok sawitri, juga sensitifitasnya akan berbagai kejadian di sekitar hidupnya, tetapi tawaran Cok kali ini adalah kecerdasan sindiran bagaimana membuat puisi panjang itu justru dapat dicomot begitu saja menjadi puisi yang utuh, ketika dipisahkan dari rangkaiannya. “Ini fase peremajaan proses penulisan…” kelakarnya ketika ditanya betapa pilihan katanya kadang sangat romantik, tiba-tiba kemudian prosaic serta menjelmakan puzzle komentar, seolah sengaja dipaksakannya masuk dalam rangkaian karya panjangnya itu. Kejutan, kontoversi, mematikan rima atau menghidupkannya, bahkan ide besar, gossip, kepedihan, seperti memasuki sebuah rak. Penjelasannya sederhana; pemberontakan itu harus dilihat secara utuh, tidak dari pernyataan saja. Dari baris pertama buku puisi akan menghadirkan ekspresi-ekspresi dari hasrat, kemarahan, kehalusan budi, rayuan, sinisme, dan kebekuan bahkan dalam tipografi pun demikian pada peralihan tertentu tiba-tiba Cok mematikan rima, mematikan eskpresinya dikenal patah menjadi petikan berita pendek, curahan amarah yang kadang seperti tak peduli pada sublimitas; Cok seolah mengisyaratkan konteks sosial kekinian tak lagi sanggup dibekukan dalam sublimasi jika pesan itu hendak sampai. Namun diksi-diksi yang mengandung ajakan hening, perenungan, berkali-kali dimunculkan dengan cara terkadang dipatahkan dengan ketercekatan dan cekaman yang mengambang. Jika saja Cok bukan dikenal sebagai penulis puitika yang kuat, barangkali pembaca akan mengira adanya ketergesaan dalam penulisan puisi atau keberlimpahan emosi. Namun ternyata ini dilakukan secara berulang, membangun pola, seolah menjadi kotroversi dengan pola penulisan dalam rangkaian yang panjang. Namun kekuatan cok adalah pada pemilihan kata sederhana, puitika harus logis dan mewakili konteksnya.
Begitu pula dengan buku Kumpulan cerpen Baruni Jembatan Surga, merupakan sebuah kumpulan cerpen yang sebenarnya mengungkap sisi berbeda dari Cok Sawitri, kegelisahan seorang seniman di tengah riuhnya teks menjadi barisan kekerasan. Pada Baruni Jembatan Surga betapa lekat sinisme yang hendak disampaikan mengenai kegamangan antara hidup dan tak hidup, kemudian bagaimana uniknya cara bertutur Cok mengenai peristiwa-peristiwa keseharian di Bali dari soal politik, dukun bahkan soal pemangku yang dipilih walau pemangku pilihan oleh dunia suci itu dikehidupan sehari-hari justru dianggap keturunan PKI.
Sementara novel The Widow Of Jirah seolah mengembalikan seluruh ingatan akan asal muasal kekuatan puitika dan nafas panjang dalam diksi yang liris. Berbasis penelitian yang kuat, kisah Janda dari Jirah ini memang menantang siapapun yang pernah menulis tradisi cerita Calon Arang yang hanya berpegang dari cerita lisan. Cok menghadirkan kisah yang berbeda 100 % dan dalam versi English ini, Cok menawarkan kepada dunia mengenai bagaimana dekonstruksi kisah dilakukan dengan cerdas, “Saya tak bermaksud menulis sejarah, tetapi bacalah sebanyak mungkin buku sejarah, jika hendak mendebat Jirah…” ucapnya dalam suatu kesempatan.
Cok Sawitri sering mengatakan bahwa dirinya adalah ‘the outsider’ dalam pemetaan sastra Indonesia, sebab pilihannya memang meniru perilaku seniman tradisi dalam tradisi kesenian Bali. Cok dikenal juga sebagai sutradara teater modern dengan karya-karya yang juga tidak ramah pasar, dikenal juga sebagai aktivis sosial budaya dan dikenal juga sebagai pembaca puisi yang memikat, juga bergaul dalam pemanggungan seni tradisi di Bali. Karena itu, ketika ia memilih menerbitkan buku-bukunya secara indie, spontan yang jeli bertanya; Cok, sedang menyampaikan isyarat barukah? Jawabannya sederhana; karya itu proses, termasuk prosesnya ketika dibaca dan dinikmati. Jadi isyarat apapun itu bisa menjadi multi pengertian. Tetapi menemui kenyataan yang paling awal adalah; bahwa sesungguhnya apapun karya seni jika dipasarkan itu harusnya disertai ‘lotion’ sebab ‘lotion’ itu kini dipakai oleh semua, laki atau perempuan, besar atau kecil, mau tak mau memakai ‘lotion’ itu. Dan indie bukanlah pernyataan, tetapi secara pribadi Cok Sawitri menyatakan; keinginannya berinteraksi dengan karyanya ketika karya itu dihantarkan ke sang calon pembaca. Segala keluh, komplain, pertanyaan, seharusnya akan menjadi inspirasi baru. Kelak, bisa jadi itu menjadi karya baru.
Dengan edisi terbatas, ketiga buku ini akan resmi diluncurkan di awal September 2013. Dan Cok menganalogikan “proses penawaran karya indie saya ini, seperti mencari air jernih di aliran got, dikumpulkan selama mungkin, dan alangkah absurd jika kelak bersanding dengan volume air yang terkumpul dalam tank raksasa perusaahan air minum!”
Sebagai sahabat, sudah pasti saya merasa bahagia dan bangga dengan keberanian Cok menerbitkan buku-bukunya secara indie. Semoga Cok tetap bersemangat untuk melahirkan karya-karya terbaru lainnya.

cokordasawitri@yahoo.com

Ditulis oleh Anisa Jafar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s