Home
MOMENTUM KEBANGKITAN BERKESENIAN BISA DIAWALI DARI DINI

(Apresiasi Pementasan “Kontemplasi 1” oleh Teater Lentera SMA Negeri 1 Paguyangan)

oleh Mahbub Junaedi
bumiayuSaat pentas Lentera, ada beberapa catatan tercecer yang tak sempat terekspos. Lebih dari sebuah pemahaman tentang kehidupan yang diwakili oleh simbol-simbol yang dimainkan secara apik dan cerdas. Tak lain adalah sebuah parodi tentang hidup secara keseharian yang melahirkan idiom-idiom tertentu. Pun semua terangkum menjadi kesatuan yang utuh. Menyaksikan Kontemplasi 1 yang menjadi judul pentas grup Teater Lentera milik SMA Negeri 1 Paguyangan memberi warna baru dan menjadi awal dari kebangkitan teater Bumiayu.

Ya, melalui tangan dingin seorang Hernandes Saranela sebagai penulis skenario dan sekaligus sebagai Sutradara mampu menjembatani dan meramu anak-anak SMA menjadi yang diharapkan. Tak ayal di bawah pimpinan produksi Agep Zulfikar yang juga salah satu pengampu di SMA Negeri 1 Paguyangan mampu memenuhi atau membangkitkan berkesenian yang lebih intensif membangun kesadaran berkesenian yang selama ini boleh dikatakan vakum. Peran serta Dimas Indianto yang juga salah satu alumni sekolah tersebut tak kalah dedikasinya dalam menyumbangkan pembacaan puisinya di samping ilmunya dalam bidang teater dan sastra, khususnya puisi. Saya sendiri sebagai masyarakat umum ikut memeriahkan dengan pembacaan puisi pada awal-awal pementasan ini. Di sinilah ketertarikan saya saat melihat dan menyelami dari dekat dan selalu mengikuti perkembangan yang sangat membanggakan.

Adalah tahap kontemplasi yang tidak ringan dari seluruh komponen yang saling bersinergi menghidupkan teater dalam artian yang lebih serius. Semua menjadi energi yang sangat menunjang dan mampu memberikan ruhnya dalam kehidupan yang lebih mampu memberi warna tersendiri.. Secara keseluruhan Kontemplasi 1 yang kemarin dipentaskan merupakan ,tayang ulang’ untuk ikut memberi makna tersendiri saat bulan puasa ini. Dengan mengundang audien dari para santri salah satu pondok pesantren yang ada di wilayah Bumiayu dan para remaja siswa-siswi SMA , para remaja serta masyarakat umu diharapkan mampu memberi pencerahan bagaimana sebuah gagasan itu bisa sampai dan menjadi pembelajaran dan memaknai setiap detail-detail dari peran yang berhasil dimainkan dengan penuh penghayatan.

Jika membicarakan tentang konsep dan teori berteater saya akan angkat tangan. Namun pengalaman menyimak dan rasa cinta saya dengan teater setidaknya bisa diambil sebagai jalan untuk mengapresiasi dari sudut pandang saya yang masih awam. Alhasil pengalaman saya menyaksikan Kontemplasi 1 dan sekaligus Kontemplasi 2 memberi catatan tersendiri tentang sebuah pertunjukan yang mampu menyedot perhatian. Bagaimana tidak, sebuah pertunjukan yang dikemas begitu rupa dengan mengeksploitasi secara keseluruhan gedung Ex Kawedanan yang cukup luas sebagai panggung mereka. Pengertian panggung di sini menjadi rancu manakala bukan hanya berupa ruang di depan audien dengn posisi lebih tinggi dengan latar belakang yang dikehendaki.

Peran-peran yang sebagian besar dilakukan secara massal ini mampu memanfaatkan setiap lekuk sudut ruang, pintu-pintu dan ruang-ruang di balik panggung sebagai bagian tak terpisahkan dari dan bahkan menjadi ‘korban’ pengeksploitasian tanpa batas. Kontemplasi 1 dan 2 bagi saya merupakan gabungan teater dan pantomim yang menjadi unsur dominan dalam mengangkat tema yang dimainkan dalam bentuk simbol-simbol yang sebenarnya kita dapat menjumpai dalam keseharian. Ya. tema yang diangkat tidak jauh dari kehidupan keseharian yang dikemas dalam berbagai konflik-konflik yang terdramatisir, terekspos dan fokus dalam menonjolkan nilai-nilai tertentu sebagai ajang katarsis bagi audiennya.

Dialog-dialog yang ada bukanlah ucapan verbal untuk memberi pengertian dengan apa yang mereka ucapkan. Tetapi merupakan letupan-letupan batin yang mencoba dikemukakan dalam paduan kombinasi gerak, mimik muka dan segelintir dialog yang diperkaya dengan ekspresi para pemerannya. Begitu juga eksploitasi dan pemahaman panggung adalah secara keseluruhan menjadi satu dan menyatu. Audien dalam hal ini diajak untuk mengolah pikir bagaimana memahami makna sebuah pertunjukan tidak harus secara instan disuguhi sesuatu yang tinggal menelan saja.

Namun, diharapkan bagaimana audien menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan dan ikut berperan serta bagaimana secara otomatis mereka akan berekspresi dan bereaksi pada setiap yang terjadi. Lalu akan ada pengalaman batin untuk memaknai setiap detail-detail tersebut menurut cara pemahaman masing-masing. Dan tentu akan diperoleh berbagai macam penafsiran dan itu tidak haram untuk diinterpretasikan sesuai dengan kemampuan alam pemikiran masing-masing.

Inilah awal kebangkitan teater sekaligus awal kebangkitan berkesenian di samping yang telah ditumbuh-kobarkan menjadi semacam ajang kreativitas yang ikut berperan aktif dalam keberlanjutan di sebuah wilayah yang sedang mencoba bangkit menuju daerah yang mandiri dan tak harus bergantung pada belas kasihan yang tak kunjung terealisir.

Bumiayu, 02 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s