Home

kita&dia

Kita & Dia
S.Sudjojono dalam Arsip

27 Januari – 21 Februari 2014

Pembukaan:
27 Januari 2014 pukul 13.00-16.00 WIB
Dibuka oleh: Prof. Srihadi Soedarsono

Diskusi:
8 Februari 2014 pukul 13.00-16.00 WIB

Galeri Soemardja ITB Bandung

S. Sudjojono, The Artist Who Gave New Life to Indonesian Modern Painting

S. Sudjojono’s name will probably be remembered forever in the history of Indonesian art as the man who gave new impetus to modern painting. As early as 1937, hence before the Japanese invasion, Sudjojono started propounding new ideas on the technical, visional, and philosophical sides of modern painting, and his influence began already to be widely felt. His activities not only gave birth to numerous beautiful paintings, sketches, caricatures, and posters, but also resulted in the establishment of schools of art. They also led people to write essays and criticisms on painting.

It is from him that many of new generation of painters have got their education. In 1947, in an outburst of activity, 25 artists, under his leadership, made a great many documentary painting, depicting the great Indonesian struggle for freedom. Regretfully enough, however, this valuable collection got destroyed during the recent fights againts the Dutch.

S. Sudjojono himself lost all his painting, and he lost his father too. This is indeed a great loss, not only for Sudjojono, but also for the Indonesian world of art. Up to now Sudjojono has been regarded as the greatest painter in our country, which does not, however, prevent him from being also poorest. He is indeed poor that he can hardly buy any decent shoes.

(Trisno Sumardjo, Bapak Seni Lukis Indonesia Baru, Mimbar Indonesia, No.42, 15 Oktober 1949)

Banyak faktor yang mendorong kita untuk selalu kembali menelusuri pemikiran S. Sudjojono, persis apabila kita hendak melakukan pengamatan terhadap perkembangan seni rupa modern Indonesia. Dorongan itu terutama sekali berguna untuk menjawab rasa ingin tahu kita mengapa dan bagaimana seni rupa di republuik ini tiba-tiba dirumuskan, dinyatakan dan dimapankan di masa kolonial menyusul zaman Revolusi yang terbilang sulit.

Kehadiran S. Sudjojono dan proklamasi kedaulatan seni lukis baru Indonesia, pada masa itu, sesungguhnya di luar dugaan khalayak maupun pemerintah kolonial sendiri. Mungkin itulah sebabnya mengapa Brita I.Mildouho-Maklai (1997) menyebut pelukis kelahiran Kisaran ini sebagai “takdir yang menentukan arah”.

Baik Trisno Sumardjo (1949) dan Rivai Apin (1950) memberitahu kita tentang reputasi S. Sudjojono sejak Persagi hingga masa kemerdekaan. Tentu saja, kita bisa menilainya dari sudut pandang yang lain, bahwa tidak semua pengamat seni sepakat menasbihkan S. Sudjojono sebagai pelopor seni rupa Indonesia. Bahkan, sepanjang hidupnya, S. Sudjojono sendiri tidak pernah mau membesarkan peran dirinya.”Biarlah nanti orang akan tahu dengan sendirinya,” ungkap S. Sudjojono suatu kali.

Pameran “Kita dan Dia: S. Sudjojono dalam Arsip” dalam rangka mengenang 100 Tahun S. Sudjojono dengan menimbang kelahirannya pada 1913, menampilkan lukisan, sketsa, fotografi, buku, guntingan pers dan artefak-artefak lain yang bertalian secara langsung maupun tidak dengan kehidupan S. Sudjojono yang dihimpun dari keluarga besar Mia Bustam dan terbilang jarang dilihat oleh publik luas. 

Pameran ini diharapkan bisa menghadirkan S. Sudjojono dari satu sudut pandang yang kiranya bisa lebih memperluas horison pemahaman kita tentang sosok Bapak Seni Lukis Modern Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s