Home

seabadkuliner-

Perjalanan bangsa Indonesia kerap kali hanya dilihat dari peristiwa politik, peristiwa sosial, dan peristiwa ekonomi. Kisah-kisah heroik lebih banyak disajikan dihadapan kita. Kisah-kisah “tidak penting” masih jarang dicatat. Kisah minor itu, termasuk sejarah pangan dan kuliner, kerap dilupakan dan terbengkalai.
Sedikit bangsa-bangsa di dunia yang memandang perjalanannya melalui sejarah pangan atau sekarah kuliner. Amerika Serikat, Inggris, dan Filipina termasuk yang bangsa-bangsa yang memiliki pemahanan baru mengenai kebudayaan mereka melalui sejarah pangan atau sejarah kuliner. Mereka telah menerbitkan sejarah pangan sejarah kuliner karena menganggap penting persoalan pangan dan kuliner. Jadi sebenarnya kita bisa melihat perjalanan sebuah bangsa ini melalui sejarah kuliner.
Kajian sejarah kuliner di Indonesia sangat minim. Persoalan-persoalan pangan dasar seperti kekurangan pangan, ketahanan pangan, impor pangan, penyelundupan pangan lebih banyak dibahas di media. Padahal kita memiliki bahan-bahan yang melimpah mengenai sejarah pangan atau sejarah kuliner. Buku resep makanan adalah salah satu bukti bahwa kita memiliki sejarah kuliner yang tak kalah menarik dengan bangsa lain.
Buku resep makanan yang hingga sekarang diketahui tertua diterbitkan pada 1845 (cetakan ketiga) dengan bahasa Melayu. Buku yang ditulis Nona Cornelia itu berjudul Kokkie Bitja ataw Kitab Masak Masakan India njang terseboet bagimana orang orang sediakan segala roepa roepa makanan, maniesan, atjaran dan sambalan.
Akan tetapi pencetakan dan penyebaran buku resep makanan secara besar-besaran lebih banyak dilakukan pada awal abad 20. Pada masa itu banyak perempuan-perempuan Belanda yang bertugas ke Hindia Belanda. Mereka membutuhkan panduan dalam mengenali dapur di tanah baru serta bahan-bahan dasar untuk makanan yang ada di tempat itu. Kisah ini bisa dibaca dalam buku De Hollandsche Tafel in Indie yang ditulis oleh N van Berkum pada tahun 1899 dan baru diterbitkan pada tahun 1900. Selanjutnya penerbitan buku resep makanan makin marak seiring dengan makin banyaknya perempuan Belanda bermigrasi ke Hindia Belanda menyusul pembukaan Terusan Suez yang memperpendek waktu tempuh kapal dari Belanda ke Hindia Belanda.

Balai Soedjamiko Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s