Home

Bentara Budaya Jakarta mengundang Anda semua untuk hadir di acara pembukaan pameran lukisan PUTU WIJAYA – ” BERTOLAK DARI YANG ADA.”

putuwijaya

Kamis, 3 April 2014 pk. 19.30 WIB di Bentara Budaya

Jakarta Jl.Palmerah Selatan no 17 JakPus.

Pameran diresmikan oleh Bp. Deddy Kusuma (kolektor)
dimeriahkan oleh penampilan Dewa Budjana & Sruti Respati.

Nama besar Putu Wijaya, lebih dikenal di dunia sastra dan sutradara film dan teater. Namun sesungguhnya pada awalnya ia ingin menjadi pelukis seperti Van Gogh, Henri Rousseau atau Rene Margriet dengan menimba ilmu di ASRI Yogyakarta. Karena kurikulum sekolah membebani dengan tugas akademik yang banyak dan tak mampu ia ikuti, minatnya berpindah. Ia ingin bekerja dan berekspresi bebas. Maka ia berubah haluan dan bermimpi menjadi Ernest Hemingway, Boris Pasternak atau Samuel Becket. Ketika reformasi, banyak kegiatan terhenti termasuk film dan teater, dan ia mulai melukis lagi.Ketika situasi kembali normal, ia kembali berteater dengan menggunakan layar berukuran besar yang dianggap mampu menampung cahaya dan bayangan yang pada intinya adalah cara lain melukis dengan cahaya.

Kemudian pada 2009, sepulang menjadi juri Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional) di Mataram, Lombok, ia mengalami pendarahan di otak. Keluar dari rumah sakit Siloam di Kawaraci, ia merasa memasuki hidup baru. Tangan dan kakinya masih menjalani fisioterapi, sampai kini. Ketika Kamis 13 Maret ditemui di rumahnya di kawasan Cirendeu, ia tengah melukis di kanvas dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya belum maksimal bisa digerakkan. Ujung kuas yang kecil digoreskan dengan ekspresi tanpa beban membentuk susunan gedung-gedung dan dua matahari di kiri dan kanan bidang lukisan. sekitar 40 buah lukisan bertema apa saja yang berkelebat di ingatannya. Pohon, air, gunung, Danau Kelimutu,matahari dan bulan, menjadi bermakna untuk dilukiskan.
“Sebagaimana menulis fiksi, saya jepret alam, opini di balik peristiwa, kenangan, suasana dan apa saja yang terlintas di batin saya. Bukan hanya seperti yang terekam oleh mata, tetapi yang mewakili ekspresi saya”, tulisnya dalam pengantar.Pameran tunggal pertama Putu Wijaya ini merupakan rangkaian perhelatan ultah ke-70, digagas dan didorong oleh Jais Dargawijaya (art dealer), Teater Mandiri, Dewi Pramunawati (istri Putu Wijaya) dan Bentara Budaya Jakarta.

Kami tunggu kehadiran Anda.
Salam
Ika W Burhan
Bentara Budaya Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s