Home

Workshop Fotografi
KISAH TOKOH : SEBUAH ZOOM KAMERA
Minggu, 13 April 2014, Pukul 18.30 – 22.00 Wita

Bentara Budaya Bali

kisahtokohSejak hampir satu setengah abad lalu, perkembangan fotografi nyaris tak terbendung. Belakangan dunia fotografi ini berlimpah aneka piranti pendukung dengan berbagai fitur canggih yang menempatkan sang kreator (fotografer) pada simpang pilihan. Di satu sisi, segala otomatisasi pada perangkat fotografi menyuguhkan aneka kemudahan, yang memungkinkan sang fotografer menciptakan citra-citra visual secara instan dan nyaris jumlahnya tak terbatas. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut justru menjauhkan mereka dari kreativitas alaminya, karena alat semakin mendominasi aktivitas ke-fotografi-an ini. Tidak mengherankan bila potensi dan kekuatan esensi dari fotografi ini selaku medium pencerahan kemanusiaan, justru menjadi kian blur (remang-remang). Ini bukan karena minimnya informasi, akan tetapi lebih karena tidak adanya sarana atau ruang untuk memperbincangkan fenomena fotografi ini secara lebih mendalam, termasuk gejala-gejala umum tersebut di atas yang memang kian merambah Indonesia. 


Menimbang hal tersebut, Bentara Budaya Bali menggelar perbincangan, terkait bahasan pada apa yang disebut fotografi secara in depth (dalam). Bertindak sebagai narasumber, fotografer Bundhowi, yang akan menguraikan perkembangan dan sejarah fotografi, terutama sejak diciptakannya kamera SLR oleh Oscar Barnack, juga kilas balik seputar fotografi modern sampai kontemporer semasa perang dunia II yang mempertautkan dunia fotografi berikut perkembangan jurnalisme dunia. Terangkum di dalam perbincangan tersebut perihal fotografi sebagai medium, baik sebagai upaya pencerahan maupun sebaliknya semasa perang dingin dunia (misalnya Perang di Indochina, meliputi Vietnam, Laos dan Kamboja) dan perang dalam konteks modern.

Bundhowi akan memperlihatkan contoh-contoh foto yang fenomenal serta mempengaruhi umat manusia agar lebih menghayati kemanusiaan, sekaligus menunjukkan komitmen para fotografer dalam memenuhi panggilan idealisme, tidak hirau akan hujaman peluru atau ledakan mesiu. Misalnya Robert Capa yang menghasilkan foto The Falling Soldier dan larry Burrows, keduanya tewas dalam perang Indochina. Dibincangkan pula kisah di balik fotografi legenderis karya Nick Ut yang mengabadikan seorang bocah perempuan Vietnam telanjang akibat terkenan korban bom napalm, lari dari kepulan asap kimia yang seakan memburunya. Termasuk mengkritisi bagaimana foto menjadi alat propaganda politik dari Vietcong, yakni memperlihatkan General Nguyen Ngoc Loan (Vietnam Selatan) yang tengah mengeksekusi mengeksekusi Nguyen Vam Lem (Vietnam Utara), di mana foto tersebut akhirnya membawa maut sang jenderal dan mengakhiri perang Indochina II. Dihadirkan pula penayangan film dokumenter yang memperlihatkan satu sisi bagaimana foto-foto itu dihasilkan oleh sang fotografernya (sebentuk behind the scene dari kejadian ini).

Ditampilkan pula foto-foto karya Henri Cartier Bresson yang menciptakan satu konsep fotografi Decisive Moment: rangkaian foto yang mengabadikan detik terakhir Belanda kehilangan kekuasaan di Indonesia, berikut foto-foto khusus dari Soekarno selaku proklamator pada masa itu. Sejalan itu, akan ditampilkan pula foto-foto kelas dunia penuh pesan kemanusiaan dari Sebastiao Salgado yang mengabadikan moment-moment dramatis dari suku-suku terasing di Amerika Latin, serta sumbangan fotografi James Nachtwey, penerima Overseas Press Club’s Robert Capa Gold Medal lima kali, yang meliput perang di Iraq, Yugoslavia, Ruwanda serta foto-fotonya tentang Aids di Afrika dan kemiskinan di Indonesia.

Dengan kata lain, workshop dan dialog ini akan menelisik lebih dalam perihal fotografi sebagai medium seni rupa (art fotografi) dan sastra (literature fotografi), berikut sebentuk alih kreasi dari fotografi ke fotografi dan fotografi ke puisi dan sebaliknya.

M. Bundhowi adalah seniman, fotografer dan pendidik di bidang bahasa, lintas budaya dan senirupa. Ia bertindak sebagai kurator, menerjemahkan buku-buku senirupa dan sastra, termasuk kumpulan puisi. Karya-karya fotonya tersebar di berbagai media di Jakarta, seperti Kompas, sejumlah media di Bali, majalah internasional, Australia serta di berbagai buku-buku dan penerbitan lainnya, baik di tanah air maupun di beberapa negara lain. Sempat sebagai pengajar dan supervisor di sekolah pengungsian Kamboja dan Vietnam di bawah Save the Children Federation, the Experiment in International Living dan World Learning Incorporated di bawah UNHCR, membuka kesempatannya untuk mengabadikan moment-moment para pengungsi yang lari dari negara mereka akibat tercabik perang. Ia banyak melakukan perjalanan fotografi ke kawasan Asia Tenggara, Vietnam, Cambodia, Laos PDR, Myanmar, Thailand, Malaysia, dsb. Pameran dalam kelompok fotografer KEDAMAIAN lintas negara di Canada, Indonesia dan Australia. Pernah pameran tunggal bertema Peace Photography diselenggarakan di berbagai tempat di luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s