Home

REPRESUNDANGAN:
Mengundang Bpk/ Ibu, Sdr/i
pada Pembukaan Pameran Tunggal Seni Cetak Grafis “Repress”
oleh M. Fadhlil Abdi (pemenang ke-2 Trienal Seni Grafis Indonesia IV)
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17 
Kamis, 8 Mei 2014, pukul 19.00
Kehadiran Anda sangat berarti
Salam Budaya
—–
M Fadhlil Abdi (Fadhlil) lahir di Palembang pada 30 Agustus 1987. Pada tahun 2013 Fadhlil lulus Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta, minat utama seni lukis. Kali pertama Fadhlil membuat karya seni cetak grafis pada 2010, yakni saat menemani beberapa teman kuliahnya lembur di studio seni grafis murni FSR ISI Yogyakarta. Saat itu dia membuat grafis cukilan pada papan MDF berupa objek potret diri. Pada tahun yang sama (2010) Fadhlil diundang oleh teman-temannya untuk berpartisipasi dalam pameran seni grafis Hi-grapher di Jogja National Museum.

Pada masa-masa awal belajar seni cetak cukilan kayu (woodcut print), Fadhlil sebenarnya merasa ragu-ragu. Mungkin karena media seni rupa murni satu ini memiliki tahapan proses penciptaan yang berbeda dengan disiplin seni lukis sebagai bidang studi utamanya saat kuliah di FSR ISI Yogyakarta. Lantas Fadhlil banyak mempelajari teknis seni cetak grafis dan berimprovisas sendiri. Keragu-raguannya untuk membentuk obyek gambar melalui teknik grafis cukilan membuat dirinya melakukan cukilan berupa arsiran pendek-pendek yang khas. Perasaan gamang saat masa awal berkarya seni cetak cukilan kayu itu secara tidak langsung berdampak psikologis. Lantas pada perkembangan proses kreatifnya justru menjadi inspirasi dalam membangun konsep karya dan karakter cukilannya.

Fadhlil memilih tajuk Repress untuk pameran tunggal seni cetak grafis perdananya. Bagi Fadhlil, inspirasi kata repress itu sejenak membawanya kembali pada memori-memori yang terlupakan sementara waktu. Beberapa film biografi tentang kehidupan para seniman besar yang diamati oleh Fadhlil rata-rata menceritakan tentang bagaimana seniman tersebut bertarung melawan tekanan mental yang dialaminya. Pada akhirnya menciptakan karya seni yang dikagumi dunia. Saat itu Fadhlil bertanya pada diri sendiri, apakah untuk mendapatkan kesuksesan harus ada kesakitan pada seniman? Harus sesakit dan segila itukah? Sepenting itukah sakit dan kegilaan bagi diri seniman? Sejenak pertanyaan itu menjadi begitu penting dan membuat Fadhlil menawarkan ikhwal konsep bahwa kemampuan menghadapi ketertekanan adalah sebuah proses awal yang membawa seorang seniman pada masa keemasannya.

Repress dimaknai pula oleh Fadhlil sebagai suatu proses mental yang menekan, menindas, atau mengekang hasrat dan jiwa dalam diri manusia. Lebih lanjut dikatakan oleh Fadhlil bahwa besar kecilnya represi tergantung pada siapa yang mengalami dan bagaimana mengendalikan tekanan itu. Mengendalikan tekanan mental bukan perihal mudah, layaknya mengajak lawan menjadi kawan untuk mengakhiri perang dan menciptakan suasana yang lebih kondusif.

Pameran tunggal seni cetak grafis nanti adalah konsekuensi logis bagi dirinya sebagai seniman untuk memberikan bukti bahwa seni cetak grafis tetap hidup berdampingan dengan seni lukis yang telah ia pinang pertama kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s