Home

bukanmusikProgram : Forum Musik dan Dialog “Bukan Musik Biasa” # 40
Tema : Sadra, Bukan Musik Biasa, dan Musik Kontemporer Kita
Judul : Sound (u/n) Sound
Tempat : Taman Budaya Surakarta
Waktu : – Dialog/sarasehan, 28 Mei 2014, pukul 08.30 WIB
– Konser, 28 Mei 2014, pukul 20.00 WIB
Komposer/
Nara sumber : Suka Hardjana, Slamet Abdul Sjukur, Rahayu Supanggah, Djaduk Ferianto, Memet Chairul Slamet, Sutanto Mendut

Term of Reference

Hampir seluruh hidupnya adalah musik. Gairah penciptaannya tak terbendung. Dan musiknya: “bukan musik biasa”—betapapun, ia lahir dan melalui masa awal bermusiknya di lingkungan tradisi gamelan Bali yang rigid. Maka, sebuah penghargaan bergengsi New Horizons Award dari International Society for Art, Sciences and Technology Berkeley California digenggamnya pada tahun 1991.

Demikianlah I Wayan Sadra, sosok yang memiliki dedikasi luar biasa di dunia musik kita.Ia datang ke dunia telah digariskan sebagai seniman musik yang ‘nakal’.Karya-karyanya melintasi bentuk dan ruang pertunjukan yang kompleks, baik karya komposisi untuk musik konser, hingga untuk mengiringi pertunjukan teater, tari, film, karya instlasi, atau performance art.

Komposisi musiknya dimainkan diforum-forum musik dunia. Ia, pada 1990,adalah komposer termuda pada sebuah festival musik yang diprakarsai oleh Jhon Cage bertajuk “Composer to Composer” di Telluride, Colorado, USA. Ia pun pernah menjadi artis residen di Darthmouth College, New Hemshire USA, untuk belajar musik elektronik pada Bergman Electronic Studio.Di sini, Sadramembuat komposisi Snow Have Dreamdan Work in Progress—debut yang mempertautkannya dengan musik eletronik.

Perjumpaan dengan musik elektronik (yang identik dengan musik “pop”) kelak melahirkan ruang pentas bagi generasi komponis baru bernama Bukan Musik Biasa (BMB). Ini alasan Sadra untuk membumikan musik “baru” dengan masyarakat luas (pop) tersebut. Ini alasan Sadra mendirikan Sono Seni Ensemble—kelompok yang mendasarkan musik combo-band sebagai medium garap musik baru.

BMB, forum dua bulanan yang dimulai sejak tahun 2007 ini, hingga penyelenggaraannya ke 40 telah memberi ruang kreatif bagi seratusan komponis, dengan perspektif dan visi artistik yang beragam. Selama 7 (tujuh) tahun rentang penyelenggaraannya, BMB mengisi kehampaan forum musik kontemporer kita. Saat ini tiada lagi Pekan Komponis Muda yang bergairah seperti pada masa jayanya di tahun 1980-an. Sekarang juga terjadi kekosongan even-even yang terbuka bagi perspektif penciptaan music baru. Surabaya Full Musik, Yogyakarta Contemporary Musik Festival, dan forum-forum serupa lainnya telah tak jelas lagi kehadirannya.
Sadra dan BMB lantas tak bisa dilepaskan dengan dunia musik kontemporer kita. Dalam hal ini, Sadra, secara personal, telah melahirkan dan menyebarkan ruang penciptaan musik kontemporer yang menjebol sekat-sekat kebudayaan musik. Sementara BMB memberi dan membuka ruang penciptaan bagi komponis muda untuk berkiprah di luar jalur musik mainstrem (pop) yang terlalu sempit untuk ruang ekspresinya. Pada dua momen ini, kontribusi Sadra sangat nyata dan sungguh tak bisa diabaiakan.

Poin terpenting dalam penyebaran ruang penciptaan adalah kredonya yang melekat pada diri murid-murid dan para cantriknya di Sono Seni Ensemble, publik BMB, ISI Surakarta dan masyarakat musik secara umum. Ialah: “Bebaskan musik dari beban kulturnya!”

Sadra menerjemahkan kalimat tersebut lewat musik-musiknya yang berada ”di luar” area musik (modern) yang baku secara teori pun praktiknya. MusikSadra hampir berada di wilayah ”pre-musik” sekaligus ”post-musik”, sebagaimana diperlihatkan pada repertoar-repertoar monumentalnya seperti Telor Busuk, Otot Kawat Balung Wesi, Membaca Batu, Laras Lurus, Gong Seret hingga Daily yang menyentak publik musik kontemporer pada Art Summit Indonesia 2004.

Hampir seluruh musik Sadra berada dalam fungsi yang “rapuh” secara konvensi: ada fenomena tanpa akhir baik pada dimensi ruang maupun waktu—seperti kerusakan yang dalam teori bahasa Jakobson menghasilkan gangguan linguistik, aphasia.Tapi justru dari sinilah visi artistik Sadra diterima sebagai musik yang menjangkau ruang lintas budaya, politik, juga filsafat.

Di sisitulah posisi penting Sadra dalam jagat musik kontemporer. Ia mengajak kita untuk bertamasya ke dunia posmodern yang membebasan hasrat manusia dari pelbagai katup, membebaskan energi kedangkalan dari kungkungan modernisme, juga pembebasan kebekuan dari dogmatisme tradisional.
Sadra “di sana” senantiasa menunggu kita untuk mengekspresikan dan mendiskusikan pelbagai isu musik kontemporer seraya menegaskan bahwa sebuah kebudayaan tak pernah diam.
Demikiankianlah poin-poin penting yang akan kita diskusikan dalam forum sarasehan nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s