Home

PRESS RELEASE

Pameran fotografi “HOME”

di Pusat Budaya Strombeek, Brussel, Belgia

7_Bekas erupsi di Museum Merapi

Sebagai tradisi tahunan, Pusat Budaya Strombeek di jantung negara Belgia mengundang satu seniman untuk menampilkan karya-karyanya selama satu tahun penuh. Dalam edisi 2014-2015 ini yang diundang adalah seniman asli Yogyakarta, Elisabeth Ida Mulyani.

Ida adalah alumni Teknik Mesin UGM yang berubah haluan dan menyelesaikan studi S1 dan S2 dalam bidang seni rupa fotografi di kota Ghent, Belgia dengan predikat cum laude. Karya-karyanya telah dipamerkan di museum-museum dan lokasi ternama lainnya di Belgia, Belanda, Jerman, Amerika dan juga Indonesia. Atas prestasinya, sebagai orang Indonesia tulen ia mendapatkan gelar “Young Belgian Talent” dua tahun yang lalu dari Museum Fotografi Antwerp di Belgia. Pada musim panas 2014 yang lalu ia dipercayai sebagai duta di International Biennial of Photography di Brussel, dimana ia menampilkan foto-foto hijabers Indonesia dan Arab Emirat.

Bersama warga Indonesia yang mengunjungi pembukaan pameran_Foto oleh Guy GunawanMengawali proyek tahunannya di Pusat Budaya Strombeek, Ida menggebrak dengan foto-foto dari Indonesia. Namun jangan berharap melihat gambar banal seperti layaknya iklan pariwisata; yang ditangkap oleh lensa kameranya adalah inti kehidupan di tanah air kecintaannya, yakni: kebersamaan. Hal ini ditunjukkan bukan semata-mata dari aktivitas yang dilakukan bersama, namun justru dengan menampilkan tanda-tanda dari kebersamaan tersebut (lihatlah tumpukan piring dan sendok, tatanan buah pisang dan salak serta gelas aqua). Disamping itu Ida menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia hidup di dalam dan bersama alam semesta, dalam kesederhanaan yang justru mencerminkan kekayaan hidup. Ia tampilkan foto-foto dari area hunian terdekat dengan kawah Merapi, yaitu dukuh Stabelan di Jawa Tengah (asal katanya adalah “staatsbelang” dalam bahasa Belanda, atau “kepentingan negara”). Setelah melihat pameran ini, pengunjung yang mayoritas adalah orang Eropa Barat sangat terkesima dengan falsafah hidup dan kebersamaan bangsa kita, serta bagaimana masyarakat pedesaan mencintai lingkungannya sebagai alfa dan omega kehidupan. Demikian juga kekaguman mereka akan ungkapan “simbah duwe gawe” (eyang punya hajat) untuk menyebut erupsi. Sebab dalam ungkapan tersebut, ledakan eyang Merapi dimaknai sebagai tanda cinta, sukacita dan hidup, bukannya tanda murka atau kebinasaan.

Info:

www.ccstrombeek.be/voorstelling/751/fotojaarproject-elisabeth-ida-mulyani

www.elisabeth-ida.com

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s