Home

Mengundang Anda sekalian untuk hadir dalam acara pameran bersama “BALANCE: IN PERFECT SOUL”

Pembukaan: Kamis, 9 April 2015 (pkl. 18.30 WIB)
Venue:
Art Gallery House of Sampoerna
Jl. Taman Sampoerna No. 6
Surabaya 60163

balance
Seniman:
A.A. Ngurah Paramartha, Dedy Sufriadi, Ida Bagus Putu Purwa, I Made ‘Romi’ Sukadana, I Wayan Paramartha, Vicensius Dedy Reru

Pameran akan berlangsung tanggal 10 April s/d 3 Mei 2015
……………………………………………………

Ebony & Ivory
Ebony & Ivory, live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, oh Lord, why don’t we?
We all know that people are the same where ever we go.
There is good and bad in everyone
We learn to live, we learn to give
Each other what we need to survive together alive
–Paul McCartney

KESEIMBANGAN adalah hukum utama pembentuk alam semesta ini. Segala sesuatu di alam raya berjalan dan bekerja dengan asas keselarasan, bahkan semua benda yang terlihat bergerak dalam ketidakteraturan pun diam-diam sedang berjalan dalam keseimbangannya. Siklus keseimbangan terus berputar dan saling membutuhkan; laki-perempuan, keras-lembut, baik-buruk, siang-malam, langit-bumi, hidup-mati, dsb. Masyarakat Timur, terutama di kawasan Asia, sudah mengenal konsep keseimbangan sebagai filosofi hidupnya. Konsep ini bahkan merupakan pondasi bagi tegaknya filsafat Timur yang disebut sebagai ’empat tradisi besar’ yakni Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme yang selanjutnya termanifestasi ke dalam gagasan Yin-Yang, Tai-Chi, Zen, dsb.

Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu memiliki konsep kosmologi Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan). Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan sesamanya. Pelaksanaan filosofi ini seperti halnya dengan cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur, di Bali ini disebut sebagai Subak.

Berkaitan dengan makrokosmos, Ralph Metzner (Metzner, 2003 : 214-216) menegaskan bahwa pola-pola penyikapan manusia atas alam membawa kepada ‘jaman industrial’ yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam, sehingga alam hanya dianggap sebagai alat penyedia belaka. Industrialisasi memicu krisis ekologi seperti banjir, pencemaran udara, perubahan iklim, krisis air bersih, kenaikan permukaan air laut, dan pencemaran udara sebagai akibat dari terganggunya keseimbangan alam. Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nation) melalui KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Bumi telah menyerukan kepada seluruh negara-negara di dunia agar mengambil tindakan segera menghadapi fenomena perubahan iklim dan pemanasan global.

Dalam konteks mikrokosmos, sebagaimana Plato katakan, “seseorang dapat dikatakan sempurna bilamana akhlak dan potensinya sudah seimbang”. Jika segenap potensi-potensi jiwa terdidik sedemikian rupa, tanpa adanya ketidakadilan dan dijauhkan dari kelebihan ataupun kekurangan, maka jiwa akan menjadi indah. Sejatinya manusia akan selalu tergugah pada kesempurnaan. Tergerak hatinya oleh keindahan yang terkandung di dalam karya seni, laut, langit, gunung, atau sekadar warna-warni bebungaan. Yang sempurna itu seimbang. Ia seimbang dalam kesederhanaannya, sekaligus kerumitannya. Ia sempurna dalam kelembutan, sekaligus kekuatannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s