Home
“PETRICHOR”
Pameran Seni Rupa 5 Seniman Muda
Di Wangi Artroom 28 November 2015. Jam 19.00 wib

petrichor

Pada ruang yang tak begitu besar, mengada lah lima orang. Sebut saja mereka Ayu, Bunga, Rara, Masaya dan Rulvi. Empat berjenis kelamin perempuan dan satu adalah lelaki. Namun semuanya adalah Penelope yang merindu hadirnya Petrichor. Terbaca karya berkesenian yang menegaskan ‘Yang Ada’ pada diri mereka. Sebuah usaha yang sejak manusia mengenal profesionalitas, terkotakkan pada profesi.

Ya mereka seniman. Setidaknya calon seniman. Karya mereka adalah dialog personal mereka atas perubahan iklim yang terjadi. Tepatnya adalah menyoal kedatangan musim hujan yang dinanti. Dan menyematkan Petrichor sebagai landasan khusus terminal keberangkatan mereka. Petrichor, sebuah petanda datangnya musim basah hujan di negeri yang mengaku agraris ini.
Hadirnya representasi simbolik jelas terbaca pada semua karya mereka. Pada karya Ayu terpampang sebuah karya intermedia antara seni grafis dan suara. Sebuah peta struktur kota ditingkahi oleh aneka ragam suara membawa kesadaran kemajuan peradaban manusia. Dan titik-titik peristiwa personal Ayu akan memorinya tentang hujan sitamdai dalam, karyanya. Mentransformasikan karya tersebut menjadi sebuah wilayah personal sekaligus publik. Dualisme sifat ini dapat muncul karena manusia sebagai subyek yang mengalami peristiwa, hidup dalam kekinian yang difatnya dinamis.

Masaya berbeda pula dalam penyikapannya atas Petrichor. Karya cetaknya yang yang memanjang ke atas, dominan hitam seakan-akan seperti sebuah penjara atas peristiwa kebakaran asap yang tengah terjadi. Banyak kecenderungan ornamental menjadi siasat representasinya menjadikan karyanya seperti ada pada sebuah negeri dongeng. Manusia ditampilkan hanya pada mata, menjadi tubuh yang tidak bebas, terkungkung pasif. Warna biru dihadirkan seperti kerinduan yang ingin ditumpahkan namun masih terbata, terkotakkan. Dan layaknya dongeng tentang penjara berbentuk menara, selalu ada jendela.; tempat sang putri menunggu pembebas yang muncul dari sana.

Berseberangan dengan Masaya, Rara memunculkan kolase tempelan berbentuk daun dan akar. Juga adanya pot-pot tanaman. Namun semuanya bukanlah sungguhan, imitasi. Hadirnya memori masa lalu manusia adalah milik masa lalu. Kejadiannya mungkin dapat direkonstruksi lagi namun tidak dengan detilnya, juga atmosfer latarnya yang jelas berubah. Kenangan personal Rara dengan keluarga dihadirkannya kembali, namun kali ini berbeda. Unsur imitatif karyanya justru menjadi penyanding kesadaran bahwa memori dapat dihadirkan lagi, namun bentuknya dimungkinkan berbeda. Setelah tahunan, masihkah Penelope sama persis? Atau Shinta harus membakar diri untuk menyatakan kesuciannya di depan Rama? Naif bukan kalau demikian adanya ?

Kemudian hadirlah Bunga. Ada dua karya yang ditampilkannya. Satu karya lukis dan yang lain instalasi. Pada karya lukisnya, terbaca sensualitas tubuh sebagai medium untuk mengungkapkan wilayah bawah sadar. Mungkin soal kenangannya akan event tertentu saat hujan. Tubuh pada karya Bunga ditampilkan seperti sesuatu yang fluid, mengambang. Tubuh menjauh dari keberadaannya yang real namun tubuh dipakai untuk mengeluarkan esensi keberadaan. Tonal warna yang saling ingin mendominasi menghadirkan ketegangan personal yang cukup puitik dan berani meski tidak sampai mencekam.

Karya Bunga yang lain adalah sebuah instalasi tentang bau. Karya ini menantang karena ingin menghadirkan Petrichor. Proyek ini bekerjasama dengan beberapa orang yang berlatar teknik kimia. Latar belakang soal ingatan menjadi pokok perhatian. Meski riskan gagal, penjelajahan Bunga dalam menghadirkan aroma cukup dapat menjadi perhatian. Hal ini setidaknya karena kenangan manusia terbangun atas lima indera. Salah satunya adalah indera penciuman. Kekuatan indera penciuman bekerja secara otomatis dan mampu memunculkan imaji manusia akan ruang dan waktu.

Dan yang terakhir adalah Rulvi dengan karya instalasinya. Pada sebuah kotak bak sepanjang dua meter, terisi lah pasir dengan tengkorak monyet. Tengkorak itu mencuat begitu saja, sebuah suspence tercipta perihal kematian yang pekat. Mengikut garis Darwinian, menghadirkan tengkorak monyet sebagai origin evolusi manusia adalah langkah yang cerdas untuk kembali mengingatkan asal-usul manusia. Manusia adalah produk terkini evolusi tersebut namun juga paling cepat menghabiskan sumber daya alam yang dimiliki. Karya Rulvi merupakan sebuah reflektor ‘kecil’ keberadaan manusia di semesta.

Secara umum, kelima seniman muda ini berusaha untuk mengelaborasi intertekstualitas dari satu karya ke karya lain. Meski dapat dibaca secara terpisah, kemampuan untuk dialog bersama tercipta. Namun perlu diingat bahwa dialog tersebut hidup dalam konteks dialektika tematik yang sifatnya individualistik. Artinya, proses thesa, negasi dan sintesa terjadi secara aktif meski masih dalam wilayah yang personal dan sungguh permisif. Meski, dalam semangat dialektika yang baik, finalitas adalah sebuah proses ‘menjadi’ di masa akan datang. Bahkan mungkin finalitas ada di genggaman apresian karya mereka.

In the river of boheme
G.M

— di Wangi Artroom // Kedai Koppi Bell.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s